Surat Untuk Thames

 setiap daun yang berguguran

setiap bintang yang berkerlipan

setiap awan yang berarak 

di bawahnya ada kita yang bersendirian melihat bulan

setiap air mata yang mengalir

setiap detik yang berlalu

setiap nafas yang dihembus

ada kita yang duduk di bangku menatap cahaya mentari terbenam di ufuk barat

setiap senyuman yang diberikan oleh orang yang tak dikenali

setiap jalan yang telah dilalui

setiap langkah yang telah dipijak di atas lantai bumi

ada kita yang membuka buku kecil lalu menulis puisi hati sendiri

seperti cinta yang telah pergi

kita duduk berteleku sendirian di hadapan sungai Thames di tepi taman yang luas

mengira setiap detik yang berlalu

mengira setiap helaian daun yang gugur dari pokok lalu jatuh ke atas arus sungai Thames yang mengalir 

menghayati suasana yang indah luas terbentang

namun di dalam jiwa penuh dengan kekosongan

kesedihan yang tidak terungkap tidak pernah menitis di birai mata

tidak pernah terlihat di wajah kita

tidak pernah ditulis di media sosial milik kita

hanya tersimpan di dalam kotak hati yang terdalam

hanyalah Thames menjadi teman baik kita yang menyaksikan segala rasa yang pernah tercurah

walaupun hanya sekadar duduk sendirian melihatnya mengalir di tepi taman


waktu itu berlalu

walaupun kita tak pernah mengejar

walaupun kita tak pernah menghentikannya

tetap jua berlalu seperti angin

dapat dirasa namun tidak dapat dilihat

seperti cahaya yang menyusup di sebalik kabus

terlihat samar-samar namun tidak dapat disentuh

tidak dapat dikejar


sendirian kita di sini di bawah awan putih yang berarak di langit

cahaya mentari menghiasi di langit bersama pelangi

namun di jiwa kita masih ada musim dingin

belum pernah berlalu walaupun sudah 1000 hari sudah terhitung pergi

saat yang lain berkejaran di padang menerbangkan layang-layang

kita di sini hanyalah duduk di bawah pokok yang rendang & merimbun

melihat mereka bergelak ketawa sendirian

bersama waktu yang berlalu, kita hanya membiarkan suasana sekeliling mengisi hari kita

walaupun suasana hati kita tidak pernah berubah

masih berada di musim dingin tanpa cahaya mentari

tanpa kehangatan yang mencairkan hati

sudah empat musim berlalu di seluruh dunia

musim bunga, musim panas, musim luruh, musim dingin

musim berganti musim, pakaian berganti pakaian, bulan berganti bulan

aku masih sama di sini

dingin dipenuhi salji di hati

tanpa sebarang cahaya sama ada mentari di langit hati

atau bulan yang menyinari bersama bintang

hanyalah kegelapan semata-mata bersama dengan kedinginan yang berpanjangan


setiap kesedihan yang berlalu di hati

setiap kedip mata ini

setiap kerinduan yang mengoyak waktu secebis demi secebis

aku di sini menulis puisi hati yang mengirimkan cinta kepada Thames yang jauh di benua sana

agar ia mengalirkan puisi ini membelah England yang teguh berdiri

membawa pergi kasih di hati yang sudah lama berada di jiwa

jika waktu tidak mampu merawat hati kita yang terluka

biarlah alam yang membantu kita membawa pergi jiwa yang lara

jika surat cinta ini sememangnya tak akan pernah menjadi milik dia

biarlah Thames menjadi penghantar surat cinta ini pergi meninggalkan penulis ini bersama cinta yang lara

walaupun ia tidak mampu menghantar kembali ke Malaysia kepada orang yang sangat dirindukan

biarlah ia menghantar surat ini membelah dunia bersama angin yang kencang

lalu masuk ke lautan yang luas terbentang

tenggelam bersama buih-buih yang muncul di celah-celah ombak yang bergelombang

tidak kembali lagi kepada ku

tidak jua sampai kepada dia

hanya tersimpan kemas di sisi Thames yang setia



Love,

Lea 






















0 Comments